PENGUJIAN PARAMETER MUTU METIL ESTER DARI CRUDE PALM OIL (CPO)
PERCOBAAN
VII
(Mata
Kuliah Praktikum Refinery dan Pengolahan Turunan Minyak Sawit)
Kelompok
3
Ani
Pujawati (B1317008)
Ayu
Puji Lestari (B1317009)
Dwi
Atika Yulianti (B1317072)
Joo
Vani Lutfiyadi (B1317027)
Mega
Novita Sari (B1317036)
PROGRAM
STUDI TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN
POLITEKNIK
NEGERI TANAH LAUT
PELAIHARI
2019
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Metil ester dapat diperoleh dari
hasil pengolahan bermacam-macam minyak nabati, misalnya di Jerman diperoleh dari minyak Rapessed, di Eropa diperoleh dari minyak biji
bunga matahari dan minyak Rapessed, di Prancis dari Itali diperoleh dari minyak
biji bunga matahari, di Amerika Serikat dan Brazil diperoleh dari minyak
kedelai, di Malaysia diperoleh dari minyak kelapa sawit, dan di Indonesia
diperoleh dari minyak kelapa sawit, minyak jarak pagar, minyak kelapa, dan
minyak kedelai. Selain minyak-minyak tersebut, minyak safflower, minyak linsedd,
dan minyak zaitun juga dapat digunakan dalam pembuatan senyawa metal ester.
Metil ester merupakan bahan baku
dalam pembuatan biodiesel. Biodiesel
merupakan bahan bakar dari proses transesterifikasi lipid untuk mengubah minyak
dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang lemak bebas. Setelah melewati
proses ini tidak seperti minyak nabati langsung biodiesel memiliki sifat
pembakaran yang mirip dengan diesel dari minyak bumi dan dapat menggantikan
mingak bumi dalam banyak kasus. Namun biodiesel lebih sering digunakan sebagai
penambah untuk diesel petroleum (Athief, 2015).
Bahan bakar nabati
bioetanol dan biodiesel merupakan dua kandidat kuat pengganti bensin dan solar
yang selama ini digunakan sebagai bahan bakar mesin Diesel. Pemerintah
Indonesia telah mencanangkan pengembangan dan implementasi dua macam bahan
bakar tersebut, bukan hanya untuk menanggulangi krisis energi yang mendera
bangsa namun juga sebagai salah satu solusi kebangkitan ekonomi masyarakat.
Oleh sebab itu, pada kali ini kami akan menguji parameter mutu metil ester yang
telah dibuat untuk dapat diimplementasikan sebagai biodiesel nantinya.
1.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum
ini adalah agar mahasiswa
terampil menganalisis parameter mutu metil ester yang dihasilkan.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1. Metil Ester
Metil ester termasuk bahan oleokimia dasar, turunan dari
trigliserida (minyak atau lemak) yang dapat dihasilkan melalui proses
esterifikasi dan transesterifikasi. Bahan baku pembuatan metil ester antara
lain minyak sawit, minyak kelapa, minyak jarak, minyak kedelai, dan lainnya (Sulastri,
2013).
Proses esterifikasi dengan katalis asam diperlukan jika
minyak nabati mengandung FFA diatas 5%. Jika minyak berkadar FFA tinggi (>5%)
langsung ditransesterifikasi dengan katlis basa maka FFA akan bereaksi dengan
katalis membentuk sabun. Terbentuknya sabun dalam jumlah yang cukup besar dapat
menghambat pemisahan gliserol dari metil ester dan berakibat terbentuknya
emulsi selama proses pencucian. Jadi esterifikasi digunakan sebagai proses
pendahuluan untuk mengkonversikan FFA menjai metil ester sehingga mengurangi
kadar FFA dalamminyak nabati dan selanjutnya ditransesterifikasi dengan katalis
basa untuk mengkonversikan trigliserida menjadi metil ester.
Proses Transesterifikasi adalah proses yang mereaksikan
trigliserida dalam minyak nabati atau lemak hewani dengan alkohol rantai pendek
seperti methanol atau ethanol (pada saat ini sebagian besar produksi biodiesel
menggunakan methanol) menghasilkan metil ester asam lemak (Fatty acids Methyl Esters/FAME) atau biodiesel dan gliserol (gliserin) sebagai produk samping.
Katalis yang digunakan natrium hidrosida (NaOH) atau kalium hidroksida (KOH).
Esterifikasi adalah proses yang menghasilkan metil ester asam lemak bebas (FFA)
dengan alkohol rantai pendek (methanol atau etanol) menghasilkan metil ester
asam lemak (FAME) dan air. Katalis yang digunakan untuk reaksi esterifikasi
adalah asam, biasanya asam sulfat (H2SO4) atau asam
fosfat (H3PO4).
2.2. Densitas
Densitas atau massa jenis adalah pengukuran massa setiap satuan volume benda.
Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap
volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa dibagi
dengan total volumenya. Sebuah benda yang memiliki massa jenis lebih tinggi
(misalnya besi)
akan memiliki volume yang lebih rendah daripada benda bermassa sama yang
memiliki massa jenis lebih rendah (misalnya air). Satuan SI massa jenis adalah kilogram per meter kubik (kg·m−3).
Massa jenis berfungsi
untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu
zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.
Rumus untuk menentukan massa jenis adalah:
ρ = 
dengan:
ρ adalah massa jenis,
2.3. Asam Lemak Bebas
Asam lemak bebas
diperoleh dari proses hidrolisa, yaitu penguraian lemak atau trigliserida oleh
molekul air yang menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas. Kerusakan minyak
atau lemak dapat juga diakibatkan oleh proses oksidasi, yaitu terjadinya kontak
antara sejumlah oksigen dengan minyak atau lemak, yang biasanya dimulai dengan
pembentukan peroksida dan hidroperoksida. Selanjutnya, terurainya asam- asam
lemak disertai dengan hidroperoksida menjadi aldehid dan keton serta asam- asam
lemak bebas. Asam lemak bebas yang dihasilkan oleh proses hidrolisa dan
oksidasi biasanya bergabung dengan lemak netral pada konsentrasi sampai 15%,
belum menghasilkan rasa yang tidak disenangi. Minyak dengan kadar asam lemak
bebas lebih dari 1%, jika dicicipi akan terasa membentuk film pada permukaan
lidah dan tidak berbau tengik, namun intensitasnya tidak bertambah dengan
bertambahnya jumlah asam lemak bebas (Ketaren, 1986).
2.4. Metanol
Metanol
juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus, adalah senyawa
kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol merupakan bentuk alkohol paling
sederhana. Pada keadaan atmosfer, metanol berbentuk cairan yang ringan, mudah
menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas
(berbau lebih ringan daripada etanol).
2.5. NaOH
Natrium hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai soda
kaustik atau sodium hidroksida, adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium
hidroksida terbentuk dari oksida basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air.
Natrium hidroksida membentuk larutan alkalin yang kuat ketika dilarutkan ke
dalam air. Natrium hidroksida digunakan di berbagai macam bidang industri,
kebanyakan digunakan sebagai basa dalam proses produksi bubur kayu dan kertas,
tekstil, air minum, sabun dan deterjen. Natrium hidroksida adalah basa yang
paling umum digunakan dalam laboratorium kimia.
BAB
III
METODE
3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, 25 April 2019 pukul 13.00-15.00 WITA. Bertempat di
Laboratorium Bio proses dan Bioenergi program studi Teknologi
Industri Pertanian Politeknik Negeri Tanah Laut.
3.2. Alat dan Bahan
3.2.1.
Alat
Alat yang digunakan pada
praktikum ini adalah termometer, hot
plate, Erlenmeyer, pipet tetes, piknometre, Burret, Mortar, Spatula, dan
gelas beaker.
3.2.2. Bahan
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah CPO, NaOH 0,1 N, Metanol, Aquadest, dan
Indikator PP.
3.3. Prosedur Kerja
A. Analisa Pengujian Densitas
1. Ditimbang
piknometer yang telah dibersihkan dalam keadaan belum ada isi sebagai a gram.
2. Piknometer
diisi dengan sampel dan ditimbang sebagai b gram
3. Dibersihkan
piknometer yang telah digunakan dengan sabun dan alkohol.
4. Dihitung
besar densitas yang diperoleh.
B. Pengujian Asam Lemak Bebas
1.
Ditimbang 5 gram metil ester,
ditambahkan larutan metanol 95% sebanyak 50 ml dan 3 tetes indikator PP.
2.
Dilakukan titrasi menggunakan larutan
NaOH 0,1N sampai berwarna merah muda.
3.
Dicatat banyaknya volume NaOH yang
terpakai.
4.
Dilakukan perhitungan dengan rumus:
%
ALB =
C, Metode Pembuatan Larutan
- NaOH 0,1 N 500ml (sebanyak 2 gram NaOH dilarutkan didalam 500ml aquadest)
- Metanol 95% netral ( ditambahkan metanol 95% sebanyak yang diperlukan kedalam erlenmeyer, ditambahkan 3 tetes indikator PP lalu dititrasi dengan NaOH 0,1 N sampai terbentuk warna merah muda)
- Indikator PP (Dilarutkan 0,5 gram FenolFtalein dalam 100ml etanol)
BAB
IV
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Adapun hasil dari praktikum pengujian parameter mutu metil ester ini dapat
dilihat pada tabel 1.1 sebagai berikut :
Tabel 1.1 Data yang
Digunakan
|
No.
|
Sampel
|
Banyaknya
|
|
1
|
NaOH
|
0,2 gram
|
|
2
|
Volume Metanol
|
75ml
|
|
3
|
Volume CPO
|
100 gram
|
|
4
|
Volume Metil Ester
|
57ml
|
Tabel 1.2 Analisi
Densitas
|
No.
|
Sampel
|
Banyaknya
|
|
1
|
Berat Piknometer Kosong (a)
|
22,61 gram
|
|
2
|
Berat Piknometer Kosong + Isi (b)
|
43,41 gram
|
|
3
|
Volume Piknometer
|
25ml
|
|
4
|
Densitas Metil Ester
|
0,832 gram/ml
|
Tabel 1.3 Analisis
Asam Lemak Bebas (ALB)
|
No.
|
Sampel
|
Banyaknya
|
|
1
|
Berat Sampel
|
3,05 gram
|
|
2
|
Volume Titrasi
|
8ml
|
|
3
|
% ALB
|
6,71%
|
Tabel 1.4 Uji Titik
Nyala
|
No.
|
Sampel
|
Banyaknya
|
|
1
|
Berat Metil Ester
|
1ml
|
|
2
|
Menyala/Tidak
|
Menyala
|
4.2.
Pembahasan
Metil ester termasuk bahan oleokimia dasar, turunan dari
trigliserida (minyak atau lemak) yang dapat dihasilkan melalui proses
esterifikasi dan transesterifikasi. Bahan baku pembuatan metil ester antara
lain minyak sawit, minyak kelapa, minyak jarak, minyak kedelai, dan lainnya (Sulastri,
2013).
Parameter mutu yang dilakukan pada metil ester yang
didapatkan pada praktikum sebelumnya adalah analisis densitas, analisis Asam
Lemak Bebas
(ALB), dan pengujian titik nyala pada sampel.
Penentuan densitas, asam lemak bebas dan pengujian titik nyala pada sampel dilakukan sebagai parameter dari mutu metil ester
yang akan diolah menjadi biodisel. Biodiesel
merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil ester dari rantai panjang
asam lemak yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel
dan terbuat dari sumber terbaharui sepetri minyak nabati atau lemak hewan
(Athief, 2015).
Berdasarkan praktikum pengujian parameter mutu
metil ester yang telah dilakukan bahan dari sampel CPO yang digunakan merupakan
bahan dari sampel yang dibuat pada minggu lalu. Pengujian parameter mutu metil
ester yang dilakukan meliputi pengujian analisis densitas minyak, analisis asam
lemak bebas (ALB), dan pengujian titik nyala. Pengujian tersebut didapatkan
hasil yang dapat dilihat pada tabel diatas tersebut, pada hasil untuk pengujian
analisis densitas minyak yang diperoleh sebesar 0,83 gram/ml hasil ini
dapat dikatakan bagus karena standar densitas metil ester adalah 0,86 – 0,89 gram/ml. Densitas atau massa jenis
adalah pengukuran massa
setiap satuan volume
benda. Semakin tinggi massa jenis suatu benda, maka semakin besar pula massa
setiap volumenya. Massa jenis rata-rata setiap benda merupakan total massa
dibagi dengan total volumenya. Massa
jenis atau densitas berfungsi
untuk menentukan zat. Setiap zat memiliki massa jenis yang berbeda. Dan satu
zat berapapun massanya berapapun volumenya akan memiliki massa jenis yang sama.
Penentuan kadar asam lemak bebas (ALB) dilakukan
dengan metode titrasi basa (NaOH). Natrium
hidroksida (NaOH) juga dikenal sebagai soda kaustik atau sodium hidroksida,
adalah sejenis basa logam kaustik. Natrium hidroksida terbentuk dari oksida
basa Natrium Oksida dilarutkan dalam air. Asam lemak bebas sendiri diperoleh dari proses
hidrolisa, yaitu penguraian lemak atau trigliserida oleh molekul air yang
menghasilkan gliserol dan asam lemak bebas. Pada prinsipnya
metode ini menganalisis ALB berdasarkan dengan jumlah NaOH yang digunakan dalam
titrasi hingga membentuk warna sampel menjadi merah jambu (Maligan, 2014).
Penggunaan NaOH pada titrasi berfungsi untuk mengukur kadar asam lemak bebas
yang terkandung dalam bahan (Hadi, 2012). Bahan tambahan yang digunakan adalah
alkohol dan indikator PP. Penambahan alkohol dimaksudkan untuk melarutkan
minyak pada sampel agar dapat bereaksi dengan basa. Minyak merupakan senyawa
organik sehingga dibutuhkan pelarut organik untuk melarutkannya (Himka, 2011).
Penggunaan indikator PP pada sampel adalah untuk membuktikan bahwa sampel
tersebut bersifat asam atau basa. Pada praktikum kali ini, setelah ditambahkan
indikator PP dan dititrasi dengan NaOH sampel berubah warna menjadi merah muda.
Artinya, sampel yang digunakan pada percobaan kali ini bersifat basa. Hasil
analisis ALB yang didapatkan adalah sebesar 6,71%, hasil tersebut dapat
dikatakan kurang
baik karena belum memenuhi standar mutu ALB pada metil ester yaitu
tidak lebih dari 2%. Selanjutnya pada pengujian parameter mutu berdasarkan uji nyala minyak
yang diperoleh menunjukkan hasil yang dapat menyala apabila dibakar hal ini
menandakan minyak yang di uji tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar
biodiesel. Biodiesel merupakan
bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil ester dari rantai panjang
asam lemak yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar dari mesin diesel
dan terbuat dari sumber terbaharui sepetri minyak nabati atau lemak hewan (Athief,
2015).
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1.
Kesimpulan
Berdasarkan
praktikum pengujian parameter mutu metil
ester yang telah
dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa pada pengujian
parameter mutu metil ester yang dilakukan meliputi pengujian analisis densitas
minyak, analisis asam lemak bebas (ALB), dan pengujian titik nyala. pengujian
analisis densitas minyak yang diperoleh sebesar 0,83 gram/ml hasil ini dapat dikatakan bagus karena standar
densitas metil ester adalah 0,86 – 0,89 gram/ml. Hasil
analisis ALB yang didapatkan adalah sebesar 6,71%, hasil tersebut dapat
dikatakan kurang
baik karena belum memenuhi standar mutu ALB pada metil ester yaitu
tidak lebih dari 2%. Selanjutnya pada pengujian parameter mutu berdasarkan uji nyala minyak
yang diperoleh menunjukkan hasil yang dapat menyala hal ini menandakan minyak
yang di uji tersebut dapat digunakan sebagai bahan bakar biodiesel.
5.2. Saran
Berdasarkan praktikum yang telah
dilakukan, sebaiknya para praktikan
lebih teliti
dalam melihat perubahan yang terjadi pada proses titrasi dan berhati hati dalam menggunakan alat
laboratorium serta menjaga kebersihan.
.
DAFTAR
PUSTAKA
Hastuti. 2015. Ekonomika Pertanian, Pengantar Teori dan Kasus. Penebar Swadaya.
Himka. 2011. Kimia Organik. http://himka1polban.wordpress.com/laporan/kimia-organik/89-2. Diakses pada tanggal 28 April 2019.
Ketaren S. 2005.
Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta:
Universitas Indonesia Press.
O’Brien RD. 2004. Fats and Oils: Formulating and Processing for Applications. Ed ke-2. Florida:
CRC Press. hlm 76-86.
Sudaryat.
2014.
Kualitas dari Minyak CPO. Jakarta: Erlangga.
LAMPIRAN
Perhitungan :
- Densitas Metil Ester :
Ket : a =Berat Pikonometer kosong
b = Berat Piknometer Kosong + Isi
c = Volume Pikonometer
- % ALB :

Gambar 1 Gambar
2
Penimbangan Piknometer Pengukuran hasil minyak
Kosong yang
didapat

Gambar 3 Gambar
4
Penimbangan Piknometer Proses
titrasi
yang telah diisi

Gambar 5 Gambar
6
Hasil Titrasi yang diperoleh Hasil uji nyala yang
dilakukan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar